[butuh info] mau lulus doktor apply sbg PhD student
— In beasiswa@yahoogroups.com, Sulthon Sjahril wrote: > Mas Ahmad, > > Ini komentar pribadi aja ya … daripada ambil doktor lagi yang beda jurusan … mendingan ambil program post-doctoral yang ada di negara : Jerman (Habilitation degree), Rusia (Doktor Nauk), Perancis (Habilitaire de Rechercher). Itu degree yang lebih tinggi daripada doktor dan tidak harus satu jurusan dengan apa yg bapak kuliah selama S3. Mungkin utk detailnya bisa dilihat di wikipedia. >
‘Postdoctoral’ bukan istilah yang tepat bagi habilitation dan semacamnya. Istilah yang tepat adalah ‘higher doctoral degree’. Di negara-negara tersebut memang diperlukan gelar semacam itu sebelum yang bersangkutan bisa memperoleh posisi di universitas.
Catch-nya ‘higher doctoral degree’ adalah pada umumnya disertasi habilitation itu *tidak merupakan riset original*, melainkan sebuah Dari beberapa rekan saya yang sudah menulis tesis habilitation, semuanya adalah tinjauan yang dalam (in-depth review article) tentang suatu topik tertentu.
http://www-d0.fnal.gov/results/publications_talks/thesis/Habilitation.html
Jadi bukan penelitian yang baru atau original.
> Di Indonesia, Amerika, Malaysia, Inggris, Australia … semuanya itu menganut bahwa S3 itu ijazah akademis tertinggi. Padahal di Jerman, Perancis, atau Rusia misalnya ada gelar akademis yg lebih tinggi dari S3. > Lulus dari ijazah itu, kalau di negara tersebut bisa lebih cepat jadi profesor.
Hmm, setahu saya bahkan dengan habilitation pun .. di Jerman misalnya … baru menjadi privatdozant. Jangan lupa, di beberapa tempat tsb, ke-profesor-an selalu dikaitkan dengan ‘chair’ atau posisi struktural, sehingga di satu bidang/grup hanya bisa ada satu profesor. Jadi misalnya di satu universitas hanya ada bisa 1 profesor bidang X, sisanya, seberapa bagusnya pun, hanya bisa jadi bawahan si profesor tsb.
Sedangkan di tempat lain (saya tahu misalnya AS, Canada, Jepang, ..) keprofesoran lebih ditentukan *prestasi* pribadi sang individu: jika dia sukses dengan grup dan dana penelitiannya, maka dengan sendirinya dia bisa menjadi full profesor.
> Jadi kalo saran sih, lebih baik ambil program post-doctoral itu aja pak (kuliahnya minimal 3 tahun dan bahkan lebih). Tambahan info aja : ini beda postdoctoral yg diberikan oleh USA atau UK (yg hanya kasih dana utk riset 6 bulan - 1 tahun dan tidak ada ijazahnya). Ini pendapat aja ya pak… > > > Terima kasih, > > > Sulthon
Posisi postdoctoral (bukan habilitation) memang tidak memberikan ijazah, namun sebagai gantinya diberikan kesempatan untuk melakukan penelitian dan mempublikasikan paper. Sukses tidaknya postdoctoral ditentukan apakah ybs bisa aktif dan produktif dalam melakukan penelitian.
Opini saya: bagi mereka yang sudah lulus S3, pada prinsipnya ‘habilitation’ bukan syarat perlu untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Seorang doktor, jika memang berniat tinggal di akademia, harus mulai memfokuskan untuk melalukan penelitian dan publikasi. Kalaupun ada yang harus dipelajari pada tahap postdoctoral, itu adalah mempelajari bagaimana menulis proposal, membimbing mahasiswa doktoral, dan aktif dalam kegiatan pertukaran ilmiah (organisasi profesi, organisasi seminar, dll).
Tambahan lagi. Saya banyak melihat iklan dan lowongan untuk ‘postdoctoral’ namun hampir tidak pernah melihat untuk ‘habilitation’. Semua orang yang menulis habilitation thesis pada dasarnya adalah tengah menjalani ‘postdoctoral’ namun menggunakan kesempatan kerja postdoctoral untuk menulis habilitation thesis.
Haryo
Category: Scholarship
























